DENPASAR, Nusainsight.com – Umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Kuningan pada Sabtu (3/5/25). Hari ini merupakan salah satu hari suci dalam ajaran Hindu yang datangnya sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Hari raya ini jatuh tepat pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau Sabtu Kliwon menurut penanggalan Bali.
Kuningan bukan sekadar penutup dari rangkaian Galungan, namun memiliki makna yang mendalam dalam spiritualitas umat Hindu. Secara etimologis, kata “Kuningan” berasal dari kata “kauningan” yang berarti pencapaian pencerahan atau peningkatan spiritual.
Momentum ini sebagai ajang introspeksi diri bagi umat Hindu agar senantiasa menjauhkan diri dari pengaruh negatif dan marabahaya. Mengutip ajaran Dalam Bagawan, Hari Raya Kuningan memiliki makna sebagai “uningang” atau pemberitahuan/peneguhan janji kepada diri sendiri maupun kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebab, hidup ini adalah perjuangan untuk terus berada di jalan dharma. Seperti, kebenaran, dan mengalahkan adharma seperti buta Dunggulan, buta Galungan, dan buta Amangkurat yang melambangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Pada perayaan Kuningan, umat Hindu menyajikan banten atau sesajen sebagai wujud bhakti. Uniknya, bentuk dan isi banten bisa berbeda-beda antara satu desa dengan desa lainnya. Namun secara umum, sesajen pada Hari Kuningan akan lengkap dengan simbol Tamiang dan Endongan.
Tamiang merupakan anyaman janur berbentuk bundar yang melambangkan perlindungan serta perputaran roda alam. Sedangkan, Endongan menggambarkan bekal spiritual dalam kehidupan, baik di dunia maupun menuju alam keabadian.
Umat Hindu meyakini akan mendapatkan berkah dari Hyang Widhi pada waktu antara pagi hari hingga pukul 12 siang. Waktu ini sebagai puncak kekuatan alam semesta. Sebab, ketika unsur Panca Mahabhuta Pertiwi, Apah, Bayu, Teja, dan Akasa bangkit mencapai klimaksnya di tengah hari (bajeg Surya). Setelah melewati waktu tersebut, energi semesta akan mengalami kemunduran atau pralina, sehingga persembahan sebaiknya pelaksanaanya sebelum tengah hari.
Melalui Hari Raya Kuningan, umat Hindu kembali untuk memperkuat rasa syukur atas anugerah kehidupan. Selain itu juga menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama, serta meningkatkan solidaritas sosial. Ini adalah momen penting untuk memperteguh niat dan tekad dalam kehidupan spiritual, serta mempererat hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.(NI 01)