DENPASAR, Nusainsight.com – Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang melarang pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung membuat sejumlah daerah kebingungan. Mereka kesulitan menentukan lokasi alternatif penanganan sampah. Namun, di tengah kebingungan ini, muncul solusi yang bisa langsung diterapkan di sumbernya: rumah tangga.
Salah satu langkah konkret untuk mengurangi volume sampah dari rumah adalah dengan membuat komposter ember tumpuk. Sesuai namanya, alat ini terdiri dari dua ember yang ditumpuk, di mana ember atas berfungsi sebagai wadah sampah organik. Sementara ember bawah menampung cairan hasil dekomposisi atau air lindi.
Kenapa dinamakan komposter ember tumpuk, karena komposter ini terdiri dari dua ember. Yang atas berfungsi sebagai penampung kompos atau bahan organik sisa dapur. Sedangkan ember bawah menampung air lindi yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.
Pembuatan komposter ini sangat mudah. Bahan yang dibutuhkan pun sederhana, seperti ember bekas cat lengkap dengan tutup, kran kecil. Selain itu lubang-lubang yang dibuat untuk sirkulasi dan aliran cairan. Proses pengomposan diawali dengan memasukkan lapisan dasar. Seperti, daun kering yang sudah membusuk alami (leaf mold) atau arang sekam sebagai media bakteri. Setelah itu, sampah organik seperti sisa dapur dicacah kecil dan ditumpuk secara berlapis.
Setelah proses pengomposan berjalan, cairan yang keluar dari ember atas akan tertampung di ember bawah. Air ini disebut air lindi dan bisa diolah menjadi pupuk cair. Untuk menghilangkan bau dan menstabilkan kandungannya, air ini perlu dijemur di bawah sinar matahari. Proses selama 2–4 minggu ini dikenal dengan fotolisis.
Air ini yang telah dipanen tidak bisa langsung digunakan. Namun, harus diproses dulu melalui penjemuran di bawah terik sinar matahari. Setelah matang, air ini bisa disimpan hingga 6 bulan. Ini digunakan sebagai pupuk organik cair (POC) dengan perbandingan 1:20 hingga 1:50.
Pengamatan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa mikroba tetap aktif meski telah melalui proses penjemuran. Artinya, pupuk tetap efektif untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, kompos padat yang dihasilkan juga bisa langsung digunakan sebagai media tanam.
Penggunaan kompos atau leaf mold ini adalah sebagai dekomposer atau starter. Kalau tanpa EM4 pun bisa, tetapi prosesnya memang akan lebih lama. Menariknya, sistem ini juga berpotensi mendatangkan lalat BSF (Black Soldier Fly), yang larvanya bisa mempercepat proses penguraian bahan organik.
Dengan alat sederhana, murah, dan bisa dibuat sendiri, komposter ember tumpuk menawarkan solusi nyata mengurangi beban TPA. Ini bukan sekadar alat, tapi bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam mengatasi krisis sampah di Bali.(NI 01)